MANAJEMEN MADRASAH DINIYAH

Sabtu, 28 Februari 2015 08:02:33 - Posting by mohrifai - 508 views

MANAJEMEN MADRASAH DINIYAH

(Harapan Madrasah Saat ini dan yang akan Datang)

Oleh: Moh. Rifa’i, M.Pd*

 

Secara legal, madrasah sudah terintegrasi dalam sistem pendidikan nasional sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional. Madrasah sebagai salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia butuh pembenahan dari beberapa aspek. Madrasah dalam sistem pendidikan di negara kita merupakan pemain lama yang masih bertahan dan keberadaannya sudah mengakar dalam masyarakat. Ironisnya, pendidikan yang berbasis agama Islam ini selalu terpinggirkan.

Persepsi masyarakat di era modern belakangan semakin menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unik. Di saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, saat filsafat hidup manusia modern mengalami krisis keagamaan dan di saat perdagangan bebas dunia makin mendekati pintu gerbangnya, keberadaan madrasah tampak makin dibutuhkan orang. Dalam artian semakian modern suatu masyarakat, maka semakin besar pula kebutuhan mereka terhadap madrasah sebagai wadah pengetahuan spiritual. Oleh sebab itu madrasah perlu merespon tantangan tersebut.[1]

Namun sampai di sini, statusnya masih terkesan terpinggirkan, hanya beberapa madrasah saja yang tidak, karena sudah dapat menjawab kebutuhan dan harapan masyarakat serta bersaing dengan sekolah-sekolah unggul pada umumnya, bahkan melebihinya. Kontemporer, telah dirasakan bahwa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan secara universal, pendidikan agama dan keagamaan sangat dibutuhkan untuk membentuk perilaku manusia yang bertaqwa dan beriman kepada Tuhannya serta berakhlak mulia. Pandangan sukses ke depan pada berbagai bidang umum tanpa disertai pendidikan agama yang memadai nyatanya terasa sia-sia saja. Madrasahlah dan sebagainya yang diharapkan bisa menjawab dan fokus kepadanya.

Madrasah Diniyah (MD) merupakan salah satu sub dari 5 sub Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam (Dit Mapenda Islam). Berdirinya Madrasah Diniyah (MD) yang didasari oleh tuntutan dan kebutuhan masyarakat dalam mewujudkan pendidikan, secara langsung maupun tidak langsung sangat membutuhkan tenaga kependidikan yang profesional yang dapat mengelola lembaga dengan manajemen/administrasi yang baik, mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan terhadap personalia, sampai dengan pengawasan. Disamping pula hal tersebut tidak akan dapat terpenuhi bilamana pendanaan madrasah tidak memadai. Oleh sebab itu, solusi yang sering terjadi pada lembaga swasta yang baru berdiri adalah dengan cara melibatkan atau memberdayakan masyarakat setempat sebagai tenaga pendidik atau kependidikan dengan harapan proses pendidikan dapat terlaksana dengan efektif dan efisien.

Eksistensi masyarakat pedesaan masih jauh berbeda dibandingkan dengan masyarakat perkotaan, baik dari aspek insdustri, informasi, perspektif moral dan mental maupun Ilmu Pengetahuan dan Teknologinya (IPTEK). Realita yang terjadi kebutuhan tersebut seringkali lambat sampai kepada masyarakat pedesaan, disamping mayoritas mereka berada pada tataran ekonomi menengah ke bawah. Hal ini menjadi pertimbangan bagi lembaga madrasah dalam rangka mewujudkan kebutuhan dan harapan semua pihak terhadap wujudnya mutu pendidikan. Namun, menjadi keunikan tersendiri bila saja masyarakat bersedia untuk menjadi tenaga pengajar dan kependidikan pada lembaga pendidikan Islam yang masih baru tanpa insentif yang memadai dan bahkan tidak sama sekali. Ini merupakan verifikasi istilah yang seringkali terlontar dari mulut kita “lillahi ta’ala”, yaitu bekerja karena Allah SWT semata, dan nyatanya hal ini benar-benar terjadi pada lembaga pendidikan Islam. Jarang sekali hal ini terjadi pada dunia pendidikan, lebih-lebih pada saat-saat sekarang ini.

Nah, wujud kepedulian masyarakat seperti ini selanjutnya tidak bisa disia-siakan begitu saja, namun harus disuplai dengan penghargaan melalui program profesionalisasi pengetahuan manajemen/administrasi masyarakat yang meluangkan waktunya tersebut demi semata-mata mengabdikan dirinya. Salah satunya adalah dengan memberikan arahan-arahan, dan pelatihan-pelatihan manajemen/administrasi lembaga pendidikan sehingga dapat beradaptasi dan paham bagaimana peran tenaga pendidik dan kependidikan yang fleksibel, inovatif  dan profesional pada bidang studinya masing-masing, di samping juga harus mencari nafkah di luar kegiatan pendidikan guna memenuhi nafkah keluarga. Selain juga, kasus ini merupakan suatu tata kelola sebuah lembaga pendidikan yang perlu dipelajari dan dicari bagaimana manajemen/administrasi seorang pimpinan lembaga yang notabene baru merintis dapat melibatkan/memberdayakan masyarakat sekitar guna mewujudkan wadah dan proses pendidikan yang dibutuhkan masyarakat.

Salah Satu faktor pendukung primer pencapaian prestasi dan mutu madrasah tergantung pada harapan, kepercayaan yang tinggi dan dukungan yang kuat dari orang tua siswa dan masyarakat sekitar. Namun realita di lapangan, hal ini kurang mendapat perhatian dari beberapa pihak madrasah sehingga akhirnya terjadi ketidakcocokkan dengan masyarakat dan bahkan lebih dari itu terjadi gap. Seharusnya madrasah menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat agar apa yang telah dilakukan madrasah menjadi tepat guna dan berhasil guna, dan akhirnya masyarakat dapat mendukung madrasah dalam berbagai aspek kebutuhan baik SDM maupun pendanaan.[2] Problematika seperti ini lebih banyak bergantung kepada pimpinan. Dalam hal ini The American Assosiasion of Scholl Administrastion telah mengumpulkan beberapa indikator penting yang harus dipahami oleh pimpinan lembaga pendidikan:[3]

1.    Memahami unsur-unsur penting pada anggota masyarakat lingkungan sekolah, kesetiaan, kepatuhan dan perasaan terikat yang ada pada masyarakat, cara-cara bereaksi, menangani ide baru.

2.    Memahami tradisi dan adat istiadat.

3.    Memahami organisasi anggota masyarakat.

4.    Memahami kepemimpinan/struktur kekuatan yang terdapat dalam masyarakat.

5.    Situasi fisik masyarakat, ciri-ciri pengelompokan formil dan hubungan ciri-ciri populasi.

 

Dengan beberapa indikator terkemuka diharapkan ada komitmen yang baik antara pihak lembaga pendidikan dan masyarakat dalam mewujudkan proses pendidikan sampai dengan meningkatkan mutu pendidikan tersebut. Pihak lembaga tentunya harus lebih mengutamakan kepentingan masyarakat yang beranekaragam dengan pola manajemen/administrasi yang relevan. Selain itu, juga mengingat bahwa analisis strategi stakeholders yaitu warga internal dan eksternal madrasah meliputi harapan dan keinginan mereka terhadap layanan pendidikan di madrasah, cakupan minimal terhadap standar pendidikan yang ada dan komparasi kegiatan nyata di madrasah dengan standar pendidikan yang telah ditetapkan. Maka untuk mengetahui itu semua pihak lembaga harus membangun hubungan dengan masyarakat setempat dan memeliharanya dengan baik.[4]

 

 

·         Mahasiswa terbaik lulusan 2008

Magister Pendidikan Islam UIN Maliki Malang (HP: 085331185151)

 



                [1]Muhaimin, 2006: 189-197

                [2]http://www.pikiranrakyat.com

                [3]M. Daryanto, 2001: 72

                [4]Puslitbang, 2005: 65

Tags #085331185151